Bandung dikenal dengan hujan yang sering turun deras, terutama saat musim hujan tiba. Di kota yang dikelilingi pegunungan dan banyak berdiri rumah tinggal, kos-kosan, kampus, perkantoran, hingga kawasan industri ini, sambaran petir bukan sekadar gangguan sesaat. Arus petir yang mengenai bangunan tanpa jalur pembuangan yang baik bisa merusak peralatan elektronik, memicu kebakaran, dan membahayakan penghuni. Karena itu, penangkal petir saja tidak cukup; sistem grounding di bawahnya harus benar-benar bekerja, dan satu-satunya cara memastikan hal itu adalah dengan mengukurnya.
Kondisi tanah di Bandung cukup beragam. Ada tanah vulkanik yang relatif gembur, tanah lempung yang menahan air di daerah dataran, dan tanah berbatu di kawasan perbukitan seperti Lembang. Tanah yang kering dan berbatu biasanya memiliki resistansi lebih tinggi, sedangkan tanah yang lembap cenderung lebih mudah menghantarkan arus. Inilah alasan pengukuran tidak bisa disamakan antara satu lokasi dengan lokasi lain, bahkan untuk bangunan yang berdekatan.
Alat yang umum dipakai untuk pekerjaan ini adalah earth tester. Berbeda dengan multitester biasa, earth tester dirancang khusus untuk mengukur resistansi tanah dan biasanya bekerja dengan metode tiga titik atau empat titik. Prinsipnya sederhana: alat mengalirkan arus uji ke tanah melalui elektroda, lalu mengukur tegangan yang muncul untuk menghitung resistansinya. Hasilnya ditampilkan langsung dalam satuan ohm, sehingga teknisi bisa menilai apakah sistem grounding sudah memadai atau perlu diperbaiki.
Sebelum mengukur, ada beberapa persiapan yang tidak boleh dilewati. Pastikan titik ukur mudah dijangkau dan aman, jauh dari genangan air dan kabel listrik yang terbuka. Periksa sambungan antara kabel grounding dan elektroda; sambungan yang longgar atau berkarat bisa membuat hasil ukur tidak akurat. Catat juga kondisi cuaca dan tanah saat pengukuran, agar hasil dari waktu ke waktu bisa dibandingkan.
Langkah pengukurannya sendiri bisa dijelaskan secara ringkas. Elektroda utama yang terhubung dengan penangkal petir dihubungkan ke terminal alat, lalu dua elektroda bantu ditancapkan ke tanah pada jarak tertentu dari elektroda utama, searah garis lurus dan tidak terlalu dekat dengan pipa atau kabel bawah tanah. Setelah alat dinyalakan dan metode pengukuran dipilih, teknisi membaca nilai yang muncul dan mengulang pengukuran dari arah yang berbeda bila memungkinkan. Jika hasil dari beberapa arah menunjukkan nilai yang jauh berbeda, kemungkinan ada gangguan di sekitar titik ukur, misalnya benda logam yang tertanam, sehingga pengukuran perlu diulang dengan posisi elektroda bantu yang digeser.
Hasil yang terlalu tinggi adalah tanda bahwa sistem grounding perlu dibenahi, bukan sekadar dicatat lalu dibiarkan. Perbaikan yang umum dilakukan antara lain menambah jumlah elektroda, memperdalam elektroda, memperbaiki sambungan, atau menambahkan material penurun resistansi tanah di sekitar elektroda. Setiap perbaikan sebaiknya diikuti pengukuran ulang, sampai nilainya masuk ke rentang yang ditargetkan. Tanpa pengukuran ulang, perbaikan hanya menjadi dugaan.
Pengukuran juga tidak cukup dilakukan sekali saat pemasangan. Untuk rumah tinggal, gedung, dan fasilitas industri di Bandung, pemeriksaan berkala sangat dianjurkan, setidaknya setahun sekali dan selalu setelah ada sambaran petir yang mengenai bangunan atau setelah renovasi besar. Tanah bisa berubah, sambungan bisa berkarat, dan kabel bisa putus tanpa terlihat dari permukaan. Pemeriksaan berkala inilah yang menjaga sistem proteksi tetap berfungsi saat benar-benar dibutuhkan, bukan hanya saat pertama dipasang.
Grounding.ID adalah konsultan grounding system dan penangkal petir sejak 2011, berbasis di Jakarta dan melayani pemasangan serta pemeriksaan di seluruh Indonesia, termasuk Bandung dan sekitarnya. Jika Anda ingin memastikan sistem penangkal petir di rumah, gedung, atau pabrik Anda benar-benar bekerja, hubungi Grounding.ID di 082299008887 untuk konsultasi dan penjadwalan pengukuran.