Batam dikenal sebagai kota industri dan galangan kapal. Di sepanjang pesisirnya berdiri galangan kapal, crane gantry yang menjulang puluhan meter, dan dermaga yang tidak pernah sepi. Semua itu terbuat dari baja dan berdiri di area terbuka. Kombinasi ini membuat galangan kapal di Batam menjadi salah satu lokasi yang paling rentan terhadap sambaran petir, apalagi saat musim hujan ketika petir sering muncul tiba-tiba di atas Selat Malaka.
Crane pelabuhan adalah titik tertinggi di kawasan galangan. Sebuah sambaran yang mengenai crane tidak berhenti di situ. Arus petir mengalir ke struktur baja, ke rel, ke kabel kontrol, dan ke peralatan las yang sedang terhubung. Kerusakan yang timbul bukan hanya pada crane itu sendiri. Sistem kontrol elektronik crane, motor penggerak, dan sensor beban bisa rusak dalam sekejap, dan biaya perbaikannya jauh lebih besar daripada biaya pemasangan proteksi yang benar.
Perlindungan dimulai dari penangkap petir di titik tertinggi crane. Batang penangkap dipasang di ujung atas struktur, bukan di bagian samping yang terlindung. Dari sana, konduktor penurun dipasang mengikuti badan crane dengan jalur sependek dan selurus mungkin. Setiap belokan tajam menaikkan risiko loncatan arus ke struktur lain, jadi jalur lurus selalu diutamakan. Konduktor ini harus terikat kuat karena crane bergerak dan bergetar setiap hari.
Tantangan khas Batam ada di tanahnya. Sebagian kawasan industri dan galangan berdiri di tanah reklamasi dan tanah pesisir yang asin. Tanah seperti ini mempercepat korosi pada elektroda grounding biasa. Karena itu elektroda yang dipakai sebaiknya batang tembaga berlapis atau baja berlapis tembaga, ditanam cukup dalam hingga mencapai lapisan tanah yang lembap dan stabil. Pada beberapa titik, penambahan bentonit di sekitar elektroda membantu menjaga kelembapan dan menurunkan nilai resistansi. Nilai resistansi grounding diukur berkala dengan earth tester, dan hasilnya dicatat supaya penurunan kualitas bisa ketahuan sebelum musim hujan tiba.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bonding, yaitu penyatuan semua bagian logam menjadi satu sistem. Lambung kapal yang sedang diperbaiki, dok kering, crane, pagar baja, dan tangki cat harus terhubung dalam satu ikatan ekipotensial. Tanpa bonding, beda potensial antar bagian logam saat terjadi sambaran bisa menimbulkan percikan. Di galangan yang menyimpan cat, thinner, dan gas las, percikan sekecil apa pun adalah bahaya besar.
Peralatan elektronik juga perlu dilindungi. Panel kontrol crane, sistem komunikasi dermaga, dan instalasi listrik bengkel dipasangi surge protective device atau SPD. SPD menahan lonjakan tegangan yang merambat lewat kabel listrik saat petir menyambar di dekat kawasan galangan. Tanpa SPD, satu sambaran di ujung dermaga bisa merusak panel kontrol di ujung lainnya.
Aturan kerja saat badai petir pun harus tegas. Pekerjaan di atas crane, di atas lambung kapal, dan di area dok terbuka dihentikan begitu guntur terdengar atau kilat terlihat. Pengelasan dan pengecatan juga dijeda karena pekerja memegang peralatan logam di ruang terbuka. Prosedur sederhana ini sering disepelekan, padahal melindungi nyawa jauh lebih penting daripada mengejar jadwal.
Pemeriksaan berkala menutup seluruh sistem ini. Sebelum musim hujan, seluruh jalur penangkap, konduktor, dan grounding diperiksa. Sambungan yang longgar dikencangkan, elektroda yang korosi diganti, dan nilai resistansi diukur ulang. Sesudah badai besar, pemeriksaan diulang karena sambaran bisa merusak sambungan tanpa terlihat dari luar.
Grounding.ID adalah konsultan penangkal petir sejak 2011, melayani seluruh Indonesia dan berbasis di Jakarta. Untuk survei dan pemasangan sistem proteksi petir di galangan kapal, crane, dan kawasan industri Batam, hubungi 082299008887.
